Minggu, 27 Maret 2011

BREAK EVENT POINT (MANAJEMEN SAINS)

Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya)

BEP amatlah penting kalau kita membuat usaha agar kita tidak mengalami kerugian, apa itu usaha jasa atau manufaktur, diantara manfaat BEP adalah

1. alat perencanaan untuk hasilkan laba

2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.

3 Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan

4 Mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti

Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya BEP dalam usaha yang kita rintis, kompenen yang berperan disini yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk produksi ataupun tidak, sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya ini

Salah satu kelemahan dari BEP yang lain adalah Bahwa hanya ada satu macam barang yang diproduksi atau dijual. Jika lebih dari satu macam maka kombinasi atau komposisi penjualannya (sales mix) akan tetap konstan. Jika dilihat di jaman sekarang ini bahwa perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya mereka menciptakan banyak produk jadi sangat sulit dan ada satu asumsi lagi
yaitu Harga jual persatuan barang tidak akan berubah berapa pun jumlah satuan barang yang dijual atau tidak ada perubahan harga secara umum. Hal ini demikian pun sulit ditemukan dalam kenyataan dan prakteknya.
Bagaimana cara menghitungnya?

Untuk menghitung BEP kita bisa hitung dalam bentuk unit atau price tergantung untuk kebutuhan

Rumus Analisis Break Even :
BEP = Total Fixed Cost / (Harga perunit - Variabel Cost Perunit)

Keterangan :
- Fixed cost : biaya tetap yang nilainya cenderung stabil tanpa dipengaruhi unit yang diproduksi.
- Variable cost : biaya variabel yang besar nilainya tergantung pada benyak sedikit jumlah barang yng diproduksi.

Contoh :
Misalnya ada perusahaan konveksi kaos kaki murah yang harga satu buah kaos kaki adalah Rp. 10.000 dengan biaya variabel sebesar Rp. 5.000 per kaos kaki dan biaya tatap sebesar Rp. 10.000.000

BEP = 10.000.000 / (10.000 - 5.000)
BEP = 2.000

Jadi diperlukan memproduksi 2.000 kaos kaki untuk mendapatkan kondisi seimbang antara biaya dengan keuntungan alias profit nol.

Persoalan diatas juga dapat dipecahkan menggunakan applikasi.

aplikasi gratis yang dapat mengerjakan segala macam persoalan manajemen sains yaitu :

pom for windows yang dapat di download di link di bawah ini :

POM FOR WINDOWS

Cara penggunaan dari aplikasi ini akan di jelaskan dengan pengerjaan contoh kasus diatas.

1. buka pom for windows (sudah download dan di instal bukan?? )

2. pilih module atau juga bisa menggunakan perintah (ALT + M) kemudian pilih breakevent

3. setelah memilih breakevent pilih lah new kemudiaan break event analysis kemudian akan muncul form seperti dibawah ini

Ketikan judul pada title, sebagai contoh BEP1

4. setelah memasukkan judul kemudian akan muncul form seperti dibawah ini

Masukkan nilai seperti pada kasus

Kemudian tekan solve atau juga bisa menggunakan perintah (ALT + S )

Kemudian akan keluar hasil seperti dibawah ini

MAKA BREAK EVENT DARI KASUS DIATAS = 2000 UNIT

SELAMAT MENCOBA ^_^ ..

Rabu, 02 Maret 2011

SEJARAH MAMANDA


SEJARAH MAMANDA

Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.[1]

Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).[1]

Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita.

Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.[1]

Seni drama tradisional Mamanda ini sangat populer di kalangan masyarakat kalimantan pada umumnya. Bahkan, beberapa waktu silam seni lakon Mamanda rutin menghiasi layar kaca sebelum hadirnya saluran televisi swasta yang turut menyaingi acara televisi lokal. Tak heran kesenian ini sudah mulai jarang dipentaskan.

Dialog Mamanda lebih kepada improvisasi pemainnya. Sehingga spontanitas yang terjadi lebih segar tanpa ada naskah yang mengikat. Namun, alur cerita Mamanda masih tetap dikedepankan. Disini Mamanda dapat dimainkan dengan naskah yang utuh atau inti ceritanya saja.


Walaupun tidak sesering dulu,namun pementasan kesenian tradisional Mamanda masih dapat kita saksikan di beberapa tempat di Banua Anam, bahkan di Kota Banjarmasin pun beberapa waktu lalu baru saja dipentaskan.

Nah, melihat fenomena tersebut, rasanya masyarakat Kalsel harus berbangga dengan kesenian Mamanda yang ettap eksis di tengah banyaknya tontonan modern seperti film dan sinetron. Lalu akhirnya timbul pertanyaan di benak kita semua, sebenarnya apa yang mendasari Mamanda tetap eksis hingga saat ini. Padahal nasib beberapa kesenian teater di beberapa daerah sudah cukup memprihatinkan. Tengok saja kesenian adat Betawi, yang diberi nama Jipeng di Jakarta yang saat ini telah tergusur oleh modernitas warga ibukota.

Menurut salah seorang seniman Kalsel yangtergabung dalam Forum Komunikasi Media Tradisonal (FK Mitra) Drs. Sirajul Huda, salah satu kiat yang dilakukan agar mamanda tetap bertahan adalah dengan pemadatan durasi. Jika awalnya Mamanda ditampilkan semalam suntuk, saat ini hanya dipentaskan 2 sampai 3 jam saja.

Hal ini menurutnya, sebagai salah satu upaya agar masyarakat tetap dapat menikmati kesenian ini tanpa harus meluangkan waktu semalaman untuk menyaksikannya. “Inovasi yang kita lakukan adalah dengan pemadatan durasi dari semalaman jadi hanya dua atau tiga jam saja, hal ini dilakukan agar masyarakat tetap bisa menikmatinya dan tidak harus semalam suntuk,” cetusnya.

Tidak hanya pemadatan durasi, inovasi yang membuat Mamandamasih tetap eksis salah satunya adalah menambah beberapa tokoh yang disesuaikan dengan perkembangan tanpa meninggalkan tokoh baku yang harus ada di Mamanda.

Tokoh lain yang dapat ditambahkan misalnya raja dari negeri lain, jin, penjajah, bahkan tokoh dari daerah lain dengan nama khas juga bisa menjadi tokoh di Mamanda.

Sedangkan untuk tokoh yang wajib ada di Mamanda adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan Kedua, Khadam, Permaisuri, dan Anak Raja.

Untuk jumlah grup Mamanda, sirajul mengaku tidak mengetahui secara pasti berapa jumlahnya yang masih eksis saat ini. Ia hanya menjelaskan saat ini yang ia tahu ada tiga yaitu Teater Banjarmasin, Teater Idaman di Banjarbaru dan satu teater yang berada di Kabupaten Tapin.

Sejarah Mamanda sendiri berawal dari kedatangan rombongan bangsawan Malaka pada tahun 1897 M yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa. Keduanya dan rombongan menetap di tanah Banjar beberapa bulan untuk mengadakan pertunjukan yang akhirnya diadaptasi oleh masyarakat Banjar dengan nama Mamanda.


Sumber Referensi:
1. Sejarah Banjar (Badan penelitian dan Pengembangan Daerah Kalimantan Selatan)
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Banjar
3. Kabupaten Banjar Website